Blogger templates

Pages

Senin, 25 November 2013

Out Bond

Kesimpulan dari permainan Out Bond :
Semua masalah atau persoalan pasti ada jalan keluarnya, jangan malah kita lari dari masalah.
Hidup di dunia tidaklah bisa hidup sendiri atau individu, kita hidup di dunia bersama-sama atau berkelompok.






Minggu, 24 November 2013

Kepengurusan IPPNU

SUSUNAN PENGURUS PIMPINAN ANAK CABANG
IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA'
KECAMATAN SUKODONO
MASA KHIDMAT 2012-2014

Ketua                 : Sri Puji Wulandari, S.Pd.I.
Wakil Ketua I      : Rusiamah
Wakil Ketua II     : Jannatul Laily Novia Bahari, S.Pd.I.
Sekretaris          : Ruri Fadhilah Kurniati, S.Hum.
Wakil Sekretaris  : Bikhurmatin
Bendahara         : Rayi Tri Prasetya, S.Pd.I.
Wakil Bendahara : Siti Mu'awanah

Departemen-departemen
1. Departemen Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (DPPO)
Nurul Ida Rohmania                    (Koordinator)
Siti Maslichah
Chilnamin Tamami
Sri Rahayu
Dewi Mahesta

2. Departemen Pendidikan dan Pembinaan kader (DPPK)
Lailatul Maghfiroh                        (Koordinator)
Anisah Islamiyah
Siti Lailatul Rizkiyah
Lilik Wijayanti
Izzatul laila W.

3. Departemen Dakwah dan Pengembangan Masyarakat (DDPM)
Mufidatul Fitriyah                       (Koordinator)
Aizatus Sholichah
Rahma Arum Suroyo
Desy Nandayu
Sukmawati

4. Departemen Minat dan Bakat (DMB)
Istifani                                      (Koordinator)
Lailatus Subadiro'
vivin Safitri
Dyah Dwi Lestari

Lembaga-lembaga
1. Lembaga Ekonomi (LE)
Erlita Faridatul                        (Koordinator)
Emi Kurnia
Alif Puji Ningrum Isa H.
Ikhlil

2. Lembaga Informasi dan Komunikasi (L-Infokom)
Ro'ifatun Nisa'                       (Koordinator)
Jihan Nuzulul
Nurma Mu'awanah
Diah Agustina

3. Lembaga Korp Pelajar Putri (L-KPP)
Ika Dewi Emyana                 (Koordinator)
Vivi Alvionita Sari
Retno Dewi Syafa'ati
Rifqi Chelsea
Siti Nurul Ajizah

Selasa, 22 Oktober 2013

IPNU IPPNU



IPNU - IPPNU Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (disingkat IPNU) adalah badan otonom Nahldlatul Ulama yang berfungsi membantu melaksanakan kebijakan NU pada segmen pelajar dan santri putra. IPNU didirikan di Semarang pada tanggal 20 Jumadil Akhir 1373 H/ 24 Pebruari 1954, yaitu pada Konbes LP Ma’arif NU. Pendiri IPNU adalah M. Shufyan Cholil (mahasiswa UGM), H. Musthafa (Solo), dan Abdul Ghony Farida (Semarang).
Ketua Umum Pertama IPNU adalah M. Tholhah Mansoer yang terpilih dalam Konferensi Segi Lima yang diselenggarakan di Solo pada 30 April-1 Mei 1954 dengan melibatkan perwakilan dari Yogyakarta, Semarang, Solo, Jombang, dan Kediri.
Pada tahun 1988, sebagai implikasi dari tekanan rezim Orde Baru, IPNU mengubah kepanjangannya menjadi Ikatan Putra Nahdlatul Ulama. Sejak saat itu, segmen garapan IPNU meluas pada komunitas remaja pada umumnya. Pada Kongres XIV di Surabaya pada tahun 2003, IPNU kembali mengubah kepanjangannya menjadi “Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama”. Sejak saat itu babak baru IPNU dimulai. Dengan keputusan itu, IPNU bertekad mengembalikan basisnya di sekolah dan pesantren.
Visi IPNU adalah terbentuknya pelajar bangsa yang bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, berakhlak mulia dan berwawasan kebangsaan serta bertanggungjawab atas tegak dan terlaksananya syari’at Islam menurut faham ahlussunnah wal jama’ah yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Sejarah kelahiran IPPNU dimulai dari perbincangan ringan oleh beberapa remaja putri yang sedang menuntut ilmu di Sekolah Guru Agama (SGA) Surakarta, tentang keputusan Muktamar NU ke-20 di Surakarta. Maka perlu adanya organisasi pelajar di kalangan Nahdliyat. Hasil obrolan ini kemudian dibawa ke kalangan NU, terutama Muslimat NU, Fatayat NU, GP. Ansor, IPNU dan Banom NU lainnya untuk membentuk tim resolusi IPNU putri pada kongres I IPNU yang akan diadakan di Malang. Selanjutnya disepakati bahwa peserta putri yang akan hadir di Malang dinamakan IPNU putri.
Dalam suasana kongres, yang dilaksanakan pada tanggal 28 Februari – 5 Maret 1955, ternyata keberadaan IPNU putri masih diperdebatkan secara alot. Rencana semula yang menyatakan bahwa keberadaan IPNU putri secara administratif menjadi departemen dalam organisasi IPNU. Namun, hasil pembicaraan dengan pengurus teras PP IPNU telah membentuk semacam kesan eksklusifitas IPNU hanya untuk pelajar putra. Melihat hasil tersebut, pada hari kedua kongres, peserta putri yang terdiri dari lima utusan daerah (Yogyakarta, Surakarta, Malang, Lumajang dan Kediri) terus melakukan konsultasi dengan jajaran teras Badan Otonom NU yang menangani pembinaan organisasi pelajar yakni PB Ma’arif (KH. Syukri Ghozali) dan PP Muslimat (Mahmudah Mawardi). Dari pembicaraan tersebut menghasilkan beberapa keputusan yakni:
  1. Pembentukan organisasi IPNU putri secara organisatoris dan secara administratif terpisah dari IPNU
  2. Tanggal 2 Maret 1955 M/ 8 Rajab 1374 H dideklarasikan sebagai hari kelahiran IPNU putri.
  3. Untuk menjalankan roda organisasi dan upaya pembentukan-pembentukan cabang selanjutnya ditetapkan sebagai ketua yaitu Umroh Mahfudhoh dan sekretaris Syamsiyah Mutholib.
  4. PP IPNU putri berkedudukan di Surakarta, Jawa Tengah.
  5. Memberitahukan dan memohon pengesahan resolusi pendirian IPNU putri kepada PB Ma’arif NU. Selanjutnya PB Ma’arif NU menyetujui dan mengesahkan IPNU putri menjadi Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).
Dalam perjalanan selanjutnya, IPPNU telah mengalami pasang surut organisasi dan Khususnya di tahun 1985, ketika pemerintah mulai memberllakukan UU No. 08 tahun 1985 tentang keormasan khusus organisasi pelajar adalah OSIS, sedangkan organisasi lain seperti IPNU-IPPNU, IRM dan lainnya tidak diijinkan untuk memasuki lingkungan sekolah. Oleh karena itu, pada Kongres IPPNU IX di Jombang tahun 1987, secara singkat telah mempersiapkan perubahan asas organisasi dan IPPNU yang kepanjangannya “Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama” berubah menjadi “Ikatan Putri-Putri Nahdlatul Ulama”.
Keinginan untuk kembali ke basis semula yakni pelajar demikian kuat, sehingga pada kongres XII IPPNU di Makasar tanggal 22-25 Maret tahun 2000 mendeklarasikan bahwa IPPNU akan dikembalikan ke basis pelajar dan penguatan wacana gender. 
Namun, pengembalian ke basis pelajar saja dirasa masih kurang. Sehingga pada Kongres ke XIII IPPNU di Surabaya tanggal 18-23 Juni 2003, IPPNU tidak hanya mendeklarasikan kembali ke basis pelajar tetapi juga kembali ke nama semula yakni “Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama”. Dengan perubahan akronim ini, IPPNU harus menunjukkan komitmennya untuk memberikan kontribusi pembangunan SDM generasi muda utamanya di kalangan pelajar putri dengan jenjang usia 12-30 tahun dan tidak terlibat pada kepentingan politik praktis yang bisa membelenggu gerak organisasi.